Bersama Melawan Penyebaran Hepatitis

Komunitas Peduli Hepatitis (KPH)

Bersatu Untuk Semua

Komunitas Peduli Hepatitis (KPH)

Peduli dengan Penderita

Komunitas Peduli Hepatitis (KPH)

Kita Berbagi

Komunitas Peduli Hepatitis (KPH)

Buka Jalan untuk Kesehatan yang Lebih Baik

Komunitas Peduli Hepatitis (KPH)

Senin, 13 Maret 2017

Antiviral gratis untuk penderita Hepatitis C

*KABAR GEMBIRA DI AWAL TAHUN 2017*

Mohon bantuanny utk me share kembali sebanyak mungkin, supaya program ini berjalan sesuai rencana, n banyak pasien hep C akan tertolong....

(insyaallah obat free untuk hep b, juga bisa.segera ada. aamiin yra)


🌹🌹🌹❤❤❤🌹🌹🌹

*KABAR BAIK BUAT PENDERITA HEP "C"*

*Obat Hep C*
*Program DAA*
*(Direct Acting Antiviral)*
Kalau di HIV sama dg ARV
dari Kemenkes gratis

Nama obatnya :
Sofosbuvir +
Simeprevir +
Ribavirin

Kesembuhan 95-98℅

Disiapkan untuk :
6.000 pasien hep C
*FREE*

*Free selama 2th,*
2017 - 2018
2019 masuk list BPJS.

Sudah ready stock d gudang kemenkes.
Tinggal Pendistribusian.
Direncanakan pendistribusian maret 2017.

Untuk pendataan,
Yang minat,
hub
*KPH, Komunitas Peduli Hepatitis*
cp :
ita 0878.860.63.889
erla.0857.1920.1361
eddi 0819.3294.4171

🌹🌹🌹❤❤❤🌹🌹🌹

info dari :
Subdit Hepatitis Kemenkes RI
Saat Renungan Akhir Tahun AIDS di RSCM
Jum'at, 30 Desember 2016

Rabu, 08 Maret 2017

Gabung di Grup Whatsapp KPH

Bagi anda yang ingin bercerita, berbagi, bertanya tentang hepatitis A, B, C dan yang berhubungan dengan itu semua silahkan bergabung ke dalam grup whatsapp KPH (Komunitas Peduli Hepatitis). Segera hub bu Ita (+6287886063889) atau bu Erla (085719201361).



Minggu, 05 Februari 2017

SEMINAR TENTANG HEPATITIS FEBRUARI 2017

HADIRILAH SEMINAR TENTANG HEPATITIS B 2017

Peserta Terbatas!!


Sabtu, 21 Januari 2017

Gabung bersama KPH melawan Hepatitis

Bagi anda yang memiliki kepedulian melawan hepatitis di Indonesia atau mungkin sedang bermasalah karena hepatitis mari gabung bersama kami.







Kamis, 19 Januari 2017

SEMINAR HEPATITIS

Seminar Mitos dan Fakta


Senin, 17 Oktober 2016

Bakti Sosial Immunisasi Gratis di panti asuhan

BAKTI SOSIAL
IMUNISASI GRATIS
Panti Asuhan MUSLIMIN
jl kramat raya.no 11
(samping LP3I)
jakarta pusat.

Dilaksanakan setelah screening anti hbs lalu diberikan vaksinasi bulan ke 1 yang dilakukan bulan Oktober 2016. Semoga Kegiatan yang bermanfaat ini akan terus berlangsung agar dapat mencegah generasi muda kita dari virus hepatitis B. Mari kita bantu dengan berpartisipasi dengan menyumbangkan tenaga, fikiran dan bantuan lainnya agar ini semua dapat terus berjalan seterusnya dan berkesinambungan. Silahkan hubungi bu Ita atau bu Erla untuk keterangan lebih lanjut.












Sabtu, 03 September 2016

TRANSPLANTASI / CANGKOK HATI DI RSUPN DR CIPTO MANGUNKUSUMO

Dalam empat dekade terakhir, transplantasi hati telah berkembang dari prosedur eksperimental menjadi modalitas terapi untuk pasien penyakit hati lanjut (end-stage liver diseas). Transplantasi hati menjadi terapi terakhir yang harus dipilih bagi pasien karena dapat meningkatkan angka harapan hidup dan kualitas hidup.

 
Kegagalan fungsi hati menyebabkan kematian bagi 1 - 2 juta orang di dunia setiap tahunnya jika tidak dilakukan transplantasi hati. Sebanyak 80% pasien menjalani tranplantasi hati dikarenakan pasien tersebut menderita penyakit sirosis hati. Penyakit sirosis hati dapat disebabkan oleh infeksi virus hepatitis B dan C, atau karena sebab lain misalnya kanker atau keganasan hati. Sebelum era transplantasi hati, pasien yang menderita penyakit sirosis hati lanjut atau dekompensata, memiliki angka ketahanan hidup hanya 10% saja. Akan tetapi dengan berkembangnya teknik tranplantasi hati maka angka harapan hidup selama 5 tahun bagi pasien tersebut meningkat menjadi 60-70%.
 
Keberhasilan transplantasi hati ini mengalami kemajuan yang pesat seiring dengan meningkatnya kemampuan untuk mengendalikan respon imun resipien dengan obat penekan sistem imun (imunosupresif). Kemajuan dalam bidang pengobatan dengan imunosupresif telah menurunkan insidens penolakan jaringan transplan (acute graft loss) dan memberikan kepercayaan diri yang lebih besar bagi tim pelaksana transplantasi hati.
 
Perkembangan transplantasi hati di Indonesia dimulai sejak dilakukannya operasi transplantasi hati pada anak di RS Dr Karyadi Semarang pada tahun 2006, bekerja sama dengan Tim Transplantasi Hati Anak dari National University Hospital Singapore. RS Dr Soetomo Surabaya juga telah membangun pusat transplantasi hati pada tahun 2010, bekerjasama dengan Tim Transplantasi Hati dari Tianjin First Center Hospital China.
 
Perkembangan transplantasi hati di RS Cipto Mangunkusumo sendiri dimulai sejak bulan Mei tahun 2010, saat pertama kali dibentuk Tim Transplantasi Hati FKUI-RSCM. Saat itu  sedang berkembangan berita mengenai kasus penyakit atresia bilier pada anak yang memerlukan transplantasi hati dan cukup menyedot perhatian masyarakat.
 
Persiapan kegiatan dimulai dengan membentuk kerjasama antara 3 rumah sakit, yaitu RSCM, RS Puri Indah Jakarta, dan The First Affiliated Hospital, Zhejiang University School of Medicine, Hangzhou China dengan dilakukannya penandatanganan MOU antar ketiga rumah sakit tersebut pada tanggal 22 Juni 2010. MOU berlanjut dengan pengiriman anggota tim transplantasi hati FKUI-RSCM belajar ke Hangzhou China. Setelah itu, dilakukanlah operasi transplantasi hati yang pertama di Indonesia pada orang dewasa di RSCM pada tanggal 13 Desember 2010. Operasi pertama tersebut dilakukan terhadap seorang laki-laki, karyawan PT Telkom Indonesia, yang berusia 44 tahun dan mendapatkan donor dari anak perempuannya yang berusia 18 tahun. Tiga bulan setelah operasi transplantasi hati, pasien sudah dapat bekerja dengan normal kembali tanpa masalah, dan masih mengkonsumsi obat dan kontrol dengan teratur di RSCM sampai saat ini.
 
Operasi berikutnya dilakukan di RSCM pada tanggal 15 Desember 2010 dengan pasien seorang anak laki-laki berusia 6 tahun, yang mengalami gangguan sistem kekebalan tubuh yang merusak hatinya. Donor adalah Bapak pasien yang bekerja sebagai anggota TNI Angkatan laut.
Kondisi pasien saat ini baik dengan tetap mengkonsumsi obat-obatan setiap harinya. Pasien telah duduk di bangku kelas 2 SD. Setiap 1 bulan sekali pasien menjalani kontrol rutin ke RSCM guna pemantauan kesehatannya.
 
Setelah melihat keberhasilan dari kedua pasien RSCM tersebut, tidak berarti Tim Transplantasi Hati FKUI-RSCM berhenti melakukan kegiatan. Proses belajar tetap dilakukan dengan mengirimkan anggota Tim untuk belajar ke luar negeri, antara lain ke University of Pittsburgh Medical Center; Chindren's Hospital of Pittsburgh; dan The First Affiliated Hospital Zhejiang University School of Medicine Hangzhou China, guna memperluas wawasan dan memperdalam pengetahuan dibidang transplantasi hati, sehingga proses transfer of knowledge berlangsung tidak hanya di RSCM, melainkan juga dilakukan di pusat transplantasi hati di luar negeri.
 
Pada tahun berikutnya, RSCM kembali melakukan operasi transplantasi hati dengan The First Affiliated Hospital, Zhejiang University School of Medicine, Hangzhou China. Operasi tersebut dilakukan di RSCM pada tanggal 31 Juli 2011 dengan pasien seorang laki-laki berusia 47 tahun yang menderita penyakit sirosis hati karena infeksi virus hepatitis. Donor adalah kerabatnya yang berusia 26 tahun. Namun sangat disayangkan pasien telah meninggal dunia pada tahun ke-2 pasca transplantasi hati dikarenakan ketidakpatuhan pasien dalam mengkonsumsi obat dan kontrol rutin.
 
Melihat adanya hasil yang baik dari proses transfer ilmu yang dilakukan oleh Tim Transplantasi Hati FKUI-RSCM, terdapat peningkatan jumlah pasien yang mendaftar untuk dilakukan transplantasi hati, terutama pasien anak. Sehingga RSCM menganggap perlu   membuka kerjasama dengan supervisi luar negeri lainnya, salah satunya dengan National University Hospital Singapore (NUHS). Kerjasama antara NUHS dengan FKUI-RSCM sebenarnya sudah berjalan dengan sangat baik dalam bidang praktek klinis kedokteran dan pendidikan kedokteran, namun belum meliputi transplantasi hati. Kerjasama dalam bidang transplanatsi hati baru dimulai pada bulan Oktober 2012, dengan mengirim koordinator transplantasi hati dan dokter bedah ke NUHS untuk belajar sistem pengelolaan pasien transplantasi, terutama anak.
 
Operasi pertama bersama NUHS dilakukan di RSCM pada tanggal 20 Oktober 2012 dengan pasien seorang anak laki-laki berusia 5 tahun, sedangkan yang menjadi donor adalah paman pasien. Kondisi pasien saat ini baik dengan tetap mengkonsumsi obat setiap harinya. Pasien telah bersekolah di taman kanak-kanak, dan setiap 1 bulan sekali pasien menjalani kontrol rutin ke RSCM guna pemantauan kesehatannya.
 
Pada tahun berikutnya, RSCM kembali melakukan operasi transplantasi hati dengan NUHS. Operasi tersebut dilakukan di RSCM pada tanggal 23 Maret 2013 dengan pasien seorang anak perempuan yang berasal dari lampung. Pasien berusia 20 bulan yang menderita penyakit bawaan yaitu atresia bilier. Ibu pasien menjadi donor hati pada operasi tersebut. Kondisi pasien saat ini baik, dan pasien tetap mengkonsumsi obat dan kontrol rutin setiap bulan di RSCM.
 
Keberhasilan yang diperlihatkan oleh Tim Transplantasi Hati FKUI-RSCM ini menunjukkan bahwa untuk melaksanakan transfer of knowledge dan operasi di bidang transplantasi hati, tidak hanya dibutuhkan keinginan untuk melakukannya, tetapi juga dibutuhkan dukungan penuh dari Pimpinan FKUI-RSCM, serta komitmen yang kuat dari setiap anggota tim transplantasi hati, mulai dari tim dokter, perawat, serta tim pendukung lainnya. Hal ini dikarenakan transplantasi hati merupakan cabang ilmu tertinggi, dan hampir semua disiplin ilmu kedokteran terlibat dibidang ini.
 
Tim Transplantasi Hati FKUI-RSCM adalah tim multi-disiplin ilmu yang bekerja sama dalam memberikan pelayanan dengan kualitas terbaik kepada pasien transplantasi hati, dengan komitmen penuh dari anggota, departemen medis dan unit yang terlibat. Tim ini adalah tim transplantasi hati terlengkap yang ada di Indonesia,  yang beranggotakan sekitar 40 orang.
 
Pelayanan kasus transplantasi hati di Indonesia masih sangat terbatas, dan saat ini masih dalam proses transfer of knowledge (alih ilmu pengetahuan dan teknologi) dari pusat-pusat transplantasi hati di dunia. Kurangnya jumlah tenaga medis yang memiliki keahlian khusus transplantasi hati turut memberikan andil bagi minimnya pelayanan transplantasi hati. Disamping itu biaya yang diperlukan pasien dalam melakukan tranplantasi hati ini sangat tinggi. Perlunya dana untuk pengobatan dan tatalaksana jangka panjang juga masih menjadi masalah. Oleh karena itu diperlukan kerjasama yang baik antara pemerintah, rumah sakit, pasien, perusahaan, dan masyarakat dalam menyelesaikan masalah tersebut.
 
Ketersediaan donor juga masih menjadi kendala bagi terlaksananya transplantasi hati di Indonesia. Belum adanya peraturan mengenai donor hidup dan donor kadaver serta kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai donor hati menjadi penyebab sulitnya mencari donor bagi pasien. Oleh karena itu sosialisasi terhadap masyarakat tentang donor hati harus lebih sering dilakukan.
 
Dengan adanya kerjasama semua sektor ini, alih pengetahuan dan teknologi dapat dilakukan dengan lebih baik, ilmu yang diperoleh dapat cepat diaplikasikan secara mandiri, dan harapan hidup pasien dapat meningkat.